Menguatkan Keyakinan Hati

Kesibukan yang ada, jadwal kegiatan yang cukup banyak. Terkadang membuat hati sedikit bergetar dan goyah untuk tetap bekerja. Ujiannya bukan hanya pada saat kita mengalami sebuah hambatan, akan tetapi lebih kepada sekuat apa niat kita mampu menggiring tindakan kita untuk memulai segala sesuatu lebih awal. Layaknya pepatah berkata “waktu ibarat pedang bermata dua” barang siapa yang mampu memanfaatkannya maka ia akan memperoleh manfaatnya, akan tetapi jika salah mengaturnya maka celakalah orang tersebut. Maka beruntunglah orang-orang yang mampu menjadi lebih baik dari hari kemarin.

waktu ibarat pedang bermata dua

Terkadang konsentrasi kita terpecah ketika berbagai amanah yang diemban tidak terjadwal dengan baik. Akan tetapi lebih dari sekedar itu, penunjang dari pelaksanaan amanah juga sangat dipengaruhi oleh kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Perlu kerja keras yang lebih bagi orang-orang yang dahulunya terbiasa bekerja sendiri dalam menyelesaikan sesuatu (seperti saya mungkin). Dari sebuah komunikasi yang baik, akan tercipta kerjasama dan rasa saing peduli akan satu dengan yang lain. Merekalah pemimpin-pemimpin hebat yang mampu menggetarkan hati seorang yang bejat sekalipun dengan perkataannya. Hal itu tidaklah mudah. Akan tetapi kembali lagi, permasalahannya tidak terletak pada bisa atau tidak bisa, akan tetapi kita mau atau tidak mau. Hidup adalah sebuah pilihan, Dan setiap pilihan memiliki konsekuensi yang berbeda-beda, dan tentunya memiliki manfaat yang berbeda pula.

Semakin berat cobaan yang dihadapi oleh seseorang, maka semakin kuat ia nantinya. Terlupa oleh hal-hal yang berada didepan mata kita, padahal tujuan sebenarnya tidak dapat dilihat dengan mata biasa, tapi dengan mata hati. Semakin jelas tujuan itu terlihat maka semakin kuat keyakinan kita akan hal itu.

Mungkin masalahnya terletak pada apa itu arti berusaha keras. Beberapa diantara kita mungkin merasa menjalani suatu kewajiban terasa begitu berat, karena tidak jarang beban dan tanggung jawab itu dibiarkan mengendap karena mengulur-ulur waktu. Sehingga pada waktunya, semua malah menjadi berantakan. Apakah itu yang kita anggap kerja keras? Padahal sejatinya orang yang berusaha keras, menempatkan kewajiban dan tanggungjawabnya lebih dahulu dibanding keinginan atau bahkan kebutuhan peribadi mereka. Ketika sesuatu terasa berat untuk dilakukan maka kita kembali terhadap tujuan apa yang ingin kita capai.

Manusia pasti merasakan godaan dan ujian terhadap kekuatan hatinya. Maka disanalah letak keluarga, sahabat, dan lingkungan-lingkungan kita berperan. Lingkungan yang baik akan selalu mengingatkan kita dengan apa tujuan kita. Ketika kita merasa lemah, maka keluarga merupakan salah satu pengingat ampuh untuk mengisi ulang semangat ktia. Beberapa orang mungkin memiliki motivasi yang berbeda-beda, maka sebaiknya jadikanlah motivasi terbesar kita dekat dengan kita.

Ketika seseorang menetapkan tujuan, mulai menjalankan, bertahan dengan sekuat tenaga, maka nikmat Allah niscaya akan datang di kemudian hari. Sabar ketika menghadapi cobaan dan bersyukur atas nikmat yang diberikan adalah kunci ketabahan orang-orang yang melihat tujuannya sangat jelas dengan mata hati mereka. Semoga Allah melimpahkan kekuatan dan rahmat bagi orang-orang yang berjuang untuk kebaikan.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu mema’lumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkarinya (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Ibrahim;7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s