Hikmah Nuzulul Qur’an

17 Ramadhan kali ini memang benar-benar spesial. Bertepatan dengan hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus. Genap 66 tahun yang lalu, momentum ini berulang. Dalam sejarah 17 Agustus tahun 1945 juga bertepatan di bulan Ramadhan. Sedikit refleksi dan renungan akan sejauh mana negeri sudah berkembang. Seolah tersirat pesan bahwa, negeri ini kembali mengawali masa kebangkitan saat 66 tahun yang lalu para pendiri bangsa memproklamasikannya. Karena memang tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini, semoga Allah memberi tanda untuk kembali mengobarkan semangat patriot di seluruh negeri ini. Amiin

Seperti pada malam sebelumnya, bulan terlihat begitu indah menjelang isya. Tergelincir di ufuk timur, menebar cahaya teduh mengiringi qiyamul lail di tiap malamnya. Merupakan sebuah keberkahan yang Allah tetapkan bagi alam semesta di bulan istimewa. Penghulu bulan tempat ampunan, do’a dan cinta terhimpun hanya kepadaNya.

Ba’da isya di Masjid Raudlatul Muttaqin, diiring dengan uraian hikmah yang disampaikan oleh ust Lukman Hakim. Seorang ustadz muda lulusan Universitas Al Azhar Mesir. Pada uraian beliau terdapat tiga pokok penting dari cara memaknai Nuzulul Qur’an.

Membaca (Tadarus)

Al Qur’an diturunkan sebagai mukjizat kepada rasulullah saw sebagai petunjuk dan cahaya bagi umat manusia hingga akhir zaman. Disebutkan bahwa Al Qur’an ialah ‘khairul kalam’ atau sebaik-baik perkataan. Saat kita membaca kita akan memperoleh pahala kebaikan di tiap hurufnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw

“dari Kitab Allah (Alquran ), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR Tirmidzi)

terlebih ketika memasuki bulan puasa, ketika saat semua amalan dilipatgandakan oleh Allah swt. Subhanallah, betapa murah Allah memberikan jalan kebaikan bagi umatnya. Lalu mengapa masih banyak yang menyia-nyiakan waktu yang Ia berikan? Semoga kita diberikan kekuatan hati untuk senantiasa membaca Al Qur’an

Mempelajari Makna

Sesudah membaca Al Qur’an, kita dianjurkan untuk mempelajari isi kandungan yang terdapat dalam Al Qur’an. Al Qur’an datang sebagai petunjuk dan cahaya bagi umat manusia untuk menghadapi kehidupan dunia. Disana terdapat hukum-hukum dan petunjuk Allah yang harus kita pahami. Ketika kita hanya membaca, akan tetapi tidak mengetahui pesan-pesan yang ada di dalamnya. Paling tidak kita akan merasakan ketenangan hati saat membaca. Akan tetapi tidak ada yang menjamin ketenangan hati kita. Maka dari itu, dengan mempelajari isi kandungan dari Al Qur’an kita tidak hanya mampu untuk melihat ayat-ayat Allah yang tersurat, lebih dari itu kita akan diberi kemudahan untuk melihat ayat-ayat Allah yang tersirat di alam semesta ini. Semoga ini menjadi jalan untuk kita terus-menerus bersyukur atas kebesaran Allah swt.

Mengamalkan dalam Kehidupan

Petunjuk yang kita telah pahami, sudah sepatutnya kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Apalah arti sebuah ilmu ketika ia tidak mampu memberikan manfaat bagi kita. Cara memperoleh manfaat tersebut adalah dengan mengamalkannya. Rasulullah saw dijuluki ‘Al Qur’an berjalan’ bukan karena beliau menghapal dan mengatahui isi kandungan Al Qur’an saja. Akan tetapi pribadi dan prilaku beliau merupakan integrasi dari isi kandungan yang terdapat pada Al Qur’an. Bukan berarti kita harus menjadi seorang hafiz Al Qur’an terlebih dahulu baru kita dapat mencontoh Rasulullah saw.

‘Sampaikanlah walau hanya satu ayat’

Tidak terbatas seberapa banyak pemahaman kita. Ketika kita memperoleh sebuah ilmu yang bermanfaat maka dengan mengamalkannya kita akan memperoleh pahala dan berkah dari Allah swt.

Al Qur’an ibarat sebuah lilin yang menerangi kita dalam kegelapan, cahaya yang memberikan kita petunjuk agar kita mampu hidup layaknya sebagai manusia. Perintah untuk beribadah dan beramal sholeh yang ditetapkan oleh Allah swt adalah semata-mata untuk menjadikan kita kembali pada fitrah kita sebagai manusia. Maka barang siapa yang meninggalkannya, maka seolah-olah ia telah menjauh dari hakikat dirinya sebagai manusia.

Semoga Allah memberikan kekuatan hati untuk terus berdiri di jalanNya. Semoga Allah memberikan berkah bagi mereka yang sabar dalam menghadapi cobaan. Semoga terlimpahkan rahmat bagi mereka yang senatiasa bersyukur atas karunia yang Allah berikan.

Subhanallahu walhamdulillah, wala’ilaha’illallahu wallahu akbar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s