Belum Saatnya Cinta

Perasaan yang aneh kambali menggerogoti hati beberapa bulan terakhir. Persoalan klasik yang sejak dulu sudah ada. Tapi sekarang modelnya lebih canggih.

Yah, lagi-lagi masalah cinta. Bukannya mau menutup diri, tapi jujur sudah beberapa tahun terakhir saya sudah mendapat pencerahan untuk lebih memikirkan hal-hal yang lebih penting dibanding hal semacam itu. Bukannya menganggap cinta itu tidak penting, tak mungkin lebih belum pada saat yang tepat.

Pengalaman masa lalu membuat saya sedikit banyak trauma akan hal itu. Karena ibarat sebuah barang narkotika, persoalan semacam ini membuat kaum remaja ketagihan. Cukup banyak kebodohan yang tidak beralasan ketika kita seseorang menyukai orang lain. Merasa menemukan pasangan hidup memang adalah hal yang paling menyenangkan dan sangat menarik.

Hingga akhirnya, saya menemukan orang-orang yang berpenampilan lebih menawan akan tetapi mampu menjaga hatinya dengan sangat baik. Tidak jauh, di lingkungan kampus dan fakultas. Disela-sela waktu saya beristirahat di masjid kampus, beberapa kali saya mendapati begitu banyak aktivis dakwah yang sedang mengaji, membaca buku, atau berdiskusi dengan kelompok mereka. Dari segi fisik, mereka tidak kalah dengan sosok artis ibukota, sedangkan prestasi, mereka juga merupakan ikon-ikon dari fakultas yang langganan keliling kota untuk menerima penghargaan, akan tetapi yang paling saya kagum adalah penampilan mereka tetap sederhana.

Kini perasaan itu datang kembali seiring dengan bertambah dewasanya umurku. Mau tidak mau, tidak lama lagi kau bukanlah hanya seorang anak dari orang tua. Tapi juga sebagi suami dari seorang istri bahkan ayah dari seorang anak. Hal itu tdak dapat dihindari, akan tetapi mari kita lebih bijak dalam menghadapinya.

Sesuatu yang mulia harus diperoleh dengan cara yang mulia, begitu juga arti sebuah wanita. Penikahan adalah jalan yang paling mulia bagi seorang pemuda untuk memperoleh haknya atas seorang wanita. Sebagai seorang pemuda yang bertanggung jawab, tentu ia tidak akan membiarkan keluarganya hidup dalam kekurangan. Untuk itu, alangkah baiknya jika kita lebih dahulu mempersiapkan diri kita, baik dari sisi mental, maupun material untuk membina sebuah rumah tangga. Dengan begitu, sikap gentle seorang pemuda akan nampak. Idealis memang, tapi seperti itulah seharusnya.

Semoga Allah menjaga hati ikhwan dan akhwat senantiasa istiqomah dalam menjalankan syariatnya, dan mempertemukan hati mereka dalam ikatan yang suci semata-mata mengharap ridhoNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s