Tentang Seseorang

Malam ke 26 bulan Ramadhan, jadi malam penuh kesan meski berselimut udara dingin. Kesan? mungkin kurang  juga bukan kata yang tepat atau tidak. Karena sepertinya tidak pas untuk menggambarkan perasaan aneh yang saya alami. Kesan’ mungkin lebih ke arah sesuatu yang menyenangkan, tapi yang saya rasakan. Lebih seperti tercampur aduk, sangat aneh. Penyebabnya? Acara buka bareng di rumah teman di luar kota menjadi awal perasaan ini. Soal klasik yang lebih suka saya ceritakan pada diri saya sendiri, tulisan adalah pelampiasannya. Tentang seseorang. (Oh no!!) Perasaannya memang sudah lama cukup terasa. Banyak juga yang berusaha menjodoh-jodohkan kami. Tapi saya sendiri tidak tahu apakah dia juga punya perasaaan yang sama. Memang semenjak pertama kali bertemu, dengan pertemuan yang cukup unik antara kami dan kedua orang tua kami. (haha) Aneh. Tidak salah kalau akhirnya, di perasaan ini tumbuh benih-benih aneh yang tidak bisa tergambar dengan jelas. Perhatian,  simpati, pengorbanan, tubuh saya seolah bergerak dengan sendirinya mengikuti kemauannya. Terkadang, saya merasa seperti orang yang bodoh. Tapi sangat memuaskan jika mampu melihat ia gembira. Bukankah seseorang akan selalu mengusahakan sesuatu agar membuat orang yang ia sayangi/cintai (atau semacamnya) bahagia? Apakah itu yang terjadi pada saya?

Sebenarnya sudah lama saya menanti seseorang untuk menjadi mengisi hati. Beberapa kali sempat singgah, akan tetapi saya tidak pernah punya cukup keberanian untuk mengungkapkannya (tapi Alhamdulillah, mungkin itu cara Allah melindungi hambaNya). Akhirnya, berakhir begitu saja. Dan saat ini, hal yang sama terjadi. Teman-teman sudah hampir terlalu sering menggoda kami. Bahkan ibuku tercinta malah ikut-ikutan mendukung jika kami menjalin hubungan. Beliau secara terang-terangan memberi masukan dan saran untuk saya. Masya Allah. Yah, jujur hati ini memang melihat dia sebagai orang yang spesial. Sangat menyenangkan membuat ia tersenyum gembira. Bahkan beberapa kali, saya sempat berbohong untuk mengusahakan sesuatu untuknya.

Tapi ada satu hal mengganjal yang membuat, sebagian hati saya mencoba melawan. Ia adalah orang yang sangat menarik. Seringkali, banyak mata yang pertama kali bertemu langsung tertarik dengannya. Hal itu sering membuat saya minder. Ia sangat terkenal, ramah, mudah bergaul, pintar, dan juga taat beribadah. Sedangkan saya, saya merasa tidak memiliki apa-apa. Saya merasa seperti orang yang baru belajar, dibandingkan dengan mereka. Yang saya miliki, hanya sedikit ilmu agama dan teman-teman yang luar biasa. Untuk seseorang sebaik dia, saya merasa tidak cukup memiliki modal untuk itu. Beberapa kali saya yakin, bahwa ia pasti sudah memiliki hati dengan seseorang. Yang berpenampilan lebih baik, dan bekal pemahaman agama yang lebih banyak. Seorang anak yasng sekolah di pesantren unggul dan sangat tampan. ‘Wah, benar-benar pasangan yang serasi.’ kata hatiku naif. Dari caranya berkomunikasi satu dengan yang lain. Sepertinya memang berbeda, dan tidak menutup kemungkinan ada sesuatu di antara mereka. Meskipun hanya perasaan saya saja. Walau cukup mengiris hati, saya cukup bahagia jikalau itu memang yang terbaik untuknya.

Alasan itu, cukup sering membuat batin saya berayun tidak jelas. Masya Allah. Subhanallah walhamdulillah walailahaillallahu wallahu akbar. Berzikir dan mengaji menjadi senjata ampuh saya untuk menenangkan hati saya.

Tidak tau perasaan apa ini, yang pasti saya berusaha agar tidak mengganggu konsentrasi saya terhadap banyak hal lain yang ingin saya wujudkan. Terkadang masalah ini, sangat menggerogoti hati dan berdampak sistemik terhadap kehidupan saya sehari-hari. (Beuuh bahasanya..ckckck) Maka dari itu saya berusaha tidak terlalu memikirkan sacara berlebihan tentang ia. (Astagfirullah, mana sekarang sudah 10 malam terakhir lagi. Mestinya temanya bukan bergalau ria. Arrrggh..noo)

Harapan itu tetap ada. Doa agar Allah menjaga hatinya dan hatiku jika kami memang berjodoh. Pada waktunya nanti, pasti kami akan bertemu. Walau nantinya hati ini mungkin hanya bertepuk sebelah tangan. Hanya kepada Allah semuanya kuserahkan. Karena Allah-lah yang berhak menyatukan hati hamba-hambanya. Allah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi tiap hambanya. Semoga Allah menjaga hati hambanya dalam petunjuknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s