Standar Internasional Bukan berarti ‘kebarat-baratan’

Setiap tahun, program peningkatan standar mutu pendidikan terus dilakukan oleh pemerintah. Mulai pengembangan infrasturktur, sertifikasi guru, hingga peningkatan standar kelulusan siswa-siswi sekolah. Akan tetapi peningkatan mutu pendidikan agaknya tidak sejalan dengan kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan. Layaknya program sekolah standar Internasional yang terus diupayakan oleh pemerintah ternyata salah tafsir oleh sebagian masyarakat termasuk pelaku pendidikan sendiri. Sekolah standar internasional  yang menjadikan bahasa Inggris sebagai salah satu indikator, malah menjadi pendorong peningkatan kualitas westernisasi bagi generasi pemuda. Hal ini terlihat dari perilaku generasi muda yang semakin hari semakin menunjukkan penurunan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Orang yang pintar harus berbahasa Inggris, orang pintar harus pandai menyanyikan lagu-lagu Inggris, orang pintar, harus mengenakan pakaian-pakaian bermerek dari luar negeri. Citra orang berpendidikan sebagai masyarakat yang serba luar negeri, kini meracuni para generasi muda. Sedikit demi sedikit nilai-nilai budaya bangsa Indonesia akhirnya bergeser menuju generasi berlabel standar internasional. Sangat disayangkan karena program-program itu justru difasilitasi oleh pemerintah.

Tidak ada yang salah tentang upaya pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Hanya saja, beberapa upaya yang dilakukan justru membuka pintu lain yang menyesatkan. Disebabkan kesalahan penafsiran akan tujuan dilaksanakannya upaya tersebut oleh para pelaku pendidikan. Pada akhirnya, secara tidak sadar kita tengah terlarut dalam buaian kebarat-baratan.

Seharusnya program pendidikan berstandar internasional bukan merujuk pada bagaimana mencetak generasi yang pandai berbahasa Inggris saja. Melainkan menjadikan bahasa Inggris hanya sebagai alat untuk mempelajari berbagai ilmu secara lebih luas, lalu dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai persoalan masyarakat. Hal ini sama sekali tidak berarti mengurangi jati diri sebagai bangsa Indonesia pada jiwa para generasi muda. Kita bukan ingin membangun sekolah yang menghasilkan generasi  yang fasih berbahasa Inggris namun gagap akan bahasa ibu pertiwi. Bagaimana generasi ini akan mengetahui persoalan yang dihadapi masyarakat, jika ia tidak mampu berkomunikasi dengan masyarakatnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s