Ruang Kecil itu bernama Kegagalan

Alhamdulillah, disela-sela kuliah. Ada begitu banyak pelajaran hidup untuk kita renungkan. Salah satunya cerita menarik yang saya ambil dari blog dosen. Subhanallah. Truly inspiring!! check this out Smile

Catatan Langit “

Rekan-rekan mahasiswa yang saya hormati,
Dulu saya punya rekan satu angkatan, namanya Edi. Dia yang terpandai diantara kami. Setelah itu dia lanjut studi S2 di Amerika hingga S3. Kemudian dia menjadi dosen di salah satu universitas di Australia. Dan katanya sekarang dia sudah kembali lagi ke USA..
Waktu itu, dia masuk ke peminatan fisika murni. Dia berhasil membukukan kelulusan dalam waktu 4 tahun tanpa pernah mengulang satupun matakuliah. Yang menarik, dia tidak pernah mau menyodok matakuliah atas. Dia selalu konsisten mengambil mata kuliah sesuai paket sks disetiap semesternya, walaupun dia sebenarnya bisa menambah 4 — 6 sks karena IPK-nya selalu di atas 3,5. Tapi kesempatan itu tidak pernah diambil.
Menjelang tugas akhir, dia melakukan riset dibawah bimbingan almarhum Professor Darmadi. Menurut kami, teman-teman-nya Edi, topik yang diambil Edi terlalu abstrak. Terlalu banyak operator-operatornya. Pokoknya yang kami percaya adalah yang dikerjain Edi itu pasti sesuatu yang hebat. Yang hasilnya pasti juga hebat dan membanggakan departemen fisika. Dialah orang yang paling percaya diri untuk bisa lulus sidang seminar tugas akhir tanpa mengalami kendala yang berarti. Kami sama sekali tak meragukan hal itu.
Ketika hari sidang tugas akhir-nya Edi tiba, ruang sidang penuh sesak oleh angkatan saya. Kami ingin dengan bangga menyaksikan teman seangkatan kami yang akan mempresentasikan hasil risetnya.
Penguji Edi ternyata bukan dosen sembarangan. Beliau bernama Dr. Herbert. Oleh anak-anak fisika di zaman itu, beliau dinobatkan sebagai dosen terbaik dalam mengajar matakuliah Pendahuluan Mekanika Kuantum dan Pendahuluan Fisika Zat Padat. Beliau tak pernah memegang dan membaca buku saat menerangkan di depan kelas. Juga tanpa laptop, in-fokus proyektor dan layar putih. Cukup dengan 3 batang kapur dan papan tulis, beliau mampu menyihir mahasiswa sampai kita semua mengerti hingga level (saya perkirakan) 70%..
Setelah sekretaris sidang membacakan riwayat pendidikan, Dr. Herbert dipersilahkan, menjadi penguji pertama. Suasana ruang sidang menjadi hening seketika. Dosen hebat berhadapan dengan murid terhebat. Semua mata tertuju ke Edi. Semua telinga menanti kata-demi-kata yang akan keluar dari mulut sang guru. Pertanyaan pertama, hJelaskan yang kamu tahu tentang atom hidrogen!h. Mungkin semua yang hadir sama-sama menghela nafas lega. Itu pertanyaan encer. Bisa dimulai dari persamaan schrodinger kemudian masuk ke partikel dalam kotak, cerita tentang atom hidrogen akan terkuak, pikir saya dalam hati. Saya aja yang anak instrumen ngerti banget sama yang namanya atom hidrogen, apalagi Edi, hati saya bergumam. Eh ternyata benar-benar diluar dugaan. Raut wajah sahabat saya yang berdiri di depan tiba-tiba berubah menjadi gugup seperti tidak siap menerima pertanyaan yang tidak terduga itu. Entah grogi, nervous atau lupa beneran, yang akhirnya membuat pertanyaan mudah itu tidak bisa dijawab dengan sempurna. Jawaban darinya benar-benar mengambang. Itu mungkin yang membuat Dr. Herbert geregetan dan suaranya makin meninggi. Ruang sidang menjadi begitu mencekam. Kami yang nonton dibelakang hanya bisa melongo menyaksikan teman kami yang terhebat, ngga berkutik dihadapan kemurkaan sang guru. Dan keputusan terpahitpun harus terjadi. Edi gagal, harus mengulang disidang tertutup. Benar-benar antiklimaks yang sangat tidak mengenakkan kami semua, apalagi buat Edi.
Rekan-rekan mahasiswa yang saya hormati,
Sebagai orang yang beragama, kita meyakini bahwa nun jauh di atas langit sana, tersimpan sebuah buku catatan yang isinya menentukan nasib kita selama di dunia. Itulah catatan langit. Yang kita tak pernah tahu isinya. Padahal ujung akhir dari semua rencana yang pernah kita buat dan kita rancang sudah tertulis disana. Apakah bakal berhasil atau gagal.
Edi adalah contoh yang sederhana dan pas. Tak ada satupun dari kami bahkan termasuk sebagian besar dosen menduga bahwa ia akan gagal di sidang seminar tugas akhir. Talenta dan cara kerja-nya yang efisien dan efektif betul-betul mampu melupakan kami semua tentang adanya catatan langit. Dan ternyata di langit telah tertulis bahwa pada hari itu Edi gagal.
Rekan-rekan mahasiswa yang saya hormati,
Mohon jangan lupakan itu. Kita boleh merasa optimis sama planning strategis dalam setiap rancangan rencana yang kita buat. Tapi jangan pernah lupa untuk menyiapkan ruang kegagalan sesempit apapun ruangan itu. Di ruang kegagalan itu, kita insya Allah bisa merenung mengapa kita bisa gagal. Bahkan hanya di ruang itulah kita bisa tersenyum menyadari betapa kecil diri ini dihadapan rencana Yang Maha Besar. Ya.. hanya diruang kegagalan itu kita bisa begitu. Tolong jangan lupakan itu…

–(Trieste, 20090623)— “

sumber: http://supriyanto.fisika.ui.ac.id/catatanlangit.html

Sebaik-baik kita berusaha pada akhirnya kehendak Allah yang menentukan semuanya. Sekedar ingin menambahkan, kegagalan itu bukan lawan dari kesuksesan. Tapi kegagalan adalah bagian dari kesuksesan. Sepenggal kisah di atas adalah salah satu buktinya.

Jangan pernah takut akan kegagalan. takutlah ketika kita tidak mampu bangkit ketika perjuangan kita tidak sesuai harapan. Gelisahlah, justru ketika tidak ada ujian dalam perjalanan kita. Karena dengan ujian, ap yang kita peroleh akan terasa lebih indah.

because there is no hope without a faith

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s