Mendaki Gunung yang Semakin Tinggi

Bulan Maret lalu kita dihebohkan dengan rencana pemerintah untuk mencabut subsidi BBM sebagai dampak dari naiknya harga minyak dunia. Berbagai elemen masyarakat turut ambil bagian menanggapi rencana kebijakan tersebut. Pemerintah menilai, alasan mencabut subsidi BBM harus dilakukan untuk menyelamatkan perekonomian negara yang defisit akibat kenaikan harga minyak dunia tersebut. Harga minyak yang mencapai 120 dolar per barel pada bulan Maret lalu, jauh melebihi APBN yang dialokasikan 90 dolar per barel untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Di satu sisi, pencabutan subsidi BBM hanya akan menambah jumlah rakyat miskin di Indonesia. Hal ini adalah salah satu tanda lemahnya stabilitas ketahanan energi nasional.

Tidak ada yang meragukan potensi energi yang dimiliki oleh Indonesia. Dari data penelitian diketahui sampai tahun 2011, untuk cadangan minyak mentah masih ada 7.73 milyar barel di Indonesia. Jumlah ini merupakan yang paling besar di antara negara-negara Asia Tenggara. Belum lagi potensi sumber energi alternatif lain seperti gas, panas bumi, dan lain-lain. Jika potensi tersebut diakumulasi, seharusnya kita mampu menjadi negara pengekspor energi.

Salah satu faktor kegagalan pemerintah dikarenakan kurangnya komitmen pemerintah dalam memnuhi kebutuhan energi dalam negeri secara jangka panjang. Untuk BBM, kebutuhan nasional saat ini berkisar 1.2 juta barel per hari sedangkan target produksi nasional untuk tahun 2012 hanya 950 ribu barel per hari. Dan pada realisasinya, seringkali kurang dari target. Sedangkan untuk tahun 2014, pemerintah hanya menargetkan produksi 1.01 juta barel per hari. Padahal setiap tahun kebutuhan BBM semakin bertambah seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan industri di tanah air.

Peningkatan kapasitas produksi energi harus dibarengi dengan penekanan konsumsi. Kebutuhan masyarakat akan transportasi dan pertumbuhan industri yang terus meningkat, mengakibatkan kebutuhan masyarakat akan energi juga akan semakin bertambah. Tentu hal ini tidak akan mampu diimbangi dengan hanya peningkatan produksi energi saja. Pemerintah juga harus berupaya agar pengelolaan energi dapat dilakukan dengan lebih efisien dan efektif. Kebijakan akan penghematan energi juga semestinya diterapkan secara jangka panjang. Bukan hanya ketika harga minyak dunia tiba-tiba melonjak. Hal ini penting untuk membudayakan penghematan energi bagi masyarakat.

Peningkatan kapasitas produksi energi tidak akan berarti apa-apa apabila kebutuhan dalam negeri juga semakin tinggi. Maka dari itu, pemerintah juga harus berupaya menekan konsumsi energi melalui pengelolaan secara lebih efektif, efisien dan untuk jangka waktu yang lama. Tanpa hal itu, kita seolah seperti mendaki gunung yang puncaknya semakin tinggi.

tulisan ini dimuat pada tajuk Suara Mahasiswa Koran SINDO edisi 18 Juni 2012. http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/504086/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s