Urat Kawat

Cerita ini sebenarnya cukup lama, kebetulan cerita ini mucul di saat saya kehilangan ide. Sekitar enam bulan yang lalu, saya dan adik-adik Sasambo UI 2011 pernah berkunjung menuju masjid kubah emas. Masjid yang begitu megah, luas dan sangat indah begitu memanjakan mata kami di sela-sela kepenatan sesudah ujian. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 1 jam lebih banyak saya habiskan untuk berbincang dengan supir angkot yang kami sewa. Sementara sekitar 8 orang adik-adik, tengah asik ‘pendekatan’ antara satu dengan yang lain.

Sepanjang perjalanan mas Heru, begitu dipanggilnya, menceritakan perjalanan hidupnya di tengah kota metropolitan. Dari perkiraan saya umur mas Heru kurang lebih 28-30 tahun. Mas Heru menceritakan pengalamannya yang dulu pernah bekerja di Sumbawa sebagai pekerja pabrik PT Newmont selama 2,5 tahun, kemudian harus kehilangan pekerjaan lantaran terkena PHK oleh perusahaan. Akhirnya ia kembali ke Depok sekitar 3 tahun yang lalu menjadi seorang supir angkot. Ia, waktu 3 tahun bukan waktu yang sebentar kawan. Di tengah hidup seorang diri tanpa ada keluarga yang mampu diandalakan, sementara engkau harus menghidupi istri dan 1 orang anak, itu sudah cukup menguras daya memutar otak hingga berat badan turun 50-60 % atau bahkan lebih. Mas Heru seorang betawi asli, lahir dari keluarga yang memang lemah secara ekonomi, dan hanya berstatus sebagai lulusan SMP. Tapi meski terlihat letih dengan semua cobaan, sepertinya masih ada cahaya yang di mata mas Heru.

Pada perjalanan pulang yang dilanda kemacetan (seperti biasa), banyak hal yang beliau ceriatakan, tentang kota Jakarta, kehidupan masyarakat betawi, kehadiran para pendatang dan banyak hal lain yang terjadi selama kurang lebih 30 tahun ia hidup sebagai bagian kecil dai sebuah kota besar. Tapi yang paling membekas ditelinga saya adalah ketika saya bertanya tentang siapa yang memiliki Masjid Kubah Emas tersebut, mas Heru berkata,

“Paling orang Padang ato orang Palembang. Mereka tuh orang-orang yang berurat nadi emas. Orang asli sini mah jarang yang kayak gitu. Kebanyakan ya kayak saya ini, ‘urat kawat’.”

Pernyataan yang membuat saya terdiam, antara haru, menyesal dan bingung harus berkata apa. Ada nada putus asa, pasrah, nyaris menyerah pada keadaan. Sementara di bagian belakang, delapan orang adik-adik tadi masih sibuk dengan canda tawa mereka.-__-“

Pernyataan tadi benar-benar membekas di telinga saya. Suara nyata yang seringkali tidak terdengar lantaran sorak-sorai  aktor politik yang sangat riuh. Hingga akhirnya, mereka berpaling dan tidak peduli lagi dengan apa yang seharusnya menjadi hak mereka. Memang tidak dapat dipungkiri kalau Jakarta memang tempat banyak orang-orang hebat yang mampu bertahan hingga mencapai kesuksesan tertinggi. Tetapi mereka yang lebih kurang beruntung itu lebih banyak. Dan tidak akan pernah terpikir bagi mereka membiayai diri sendiri untuk sekedar mengikuti training motivasi, sementara setiap hari mereka harus berpikir, bagaimana hidup esok hari? Kita tidak pernah bisa menuntut seseorang untuk hanyut dalam sistem rimba, dengan konsekuensi kerja keras dan daya pikir yang cukup. Karena tidak setiap mereka mampu berpikir visioner hingga menghasilkan perubahan. Tapi mereka ada, dan mereka juga manusia yang memilik hak untuk hidup.

Semoga kebaikan dan kehidupan yang layak bagi mereka yang ‘sudah selesai’ dengan diri mereka sendiri. Sedikit mengutip pernyataan bapak Anis Baswedan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s