Every second left. There’s a hunt for our brother and sister. Day and a die. #saverohingya

azizon bin jamaan

“Gumpalan debu yang menjadi daki adalah makanan, Air mata dan keringat yang asin adalah air minum, Tetesan darah karena kematian dan luka adalah adalah tinta yang menggoreskan kepahitan”

Walaupun terlihat “lebay” namun sedikit banyaknya sajak tersebut menggambarkan bagaimana keadaan dan perasaan saudara-saudara kita yang berada di Myanmar, tepatnya etnis minoritas Rohingya. Etnis ini merupakan etnis muslim yang berada di daerah perbatasan Myanmar dan Bangladesh. Pemerintah Myanmar menyebut mereka sebagai penduduk ilegal yang datang dari Bangladesh. Ketika mereka mencoba kembali untuk datang ke Bangladesh, mereka juga ditolak. Penolakan oleh kedua penduduk asli ini disebabkan karena perbedaan budaya dan karena etnis Rohingya yang beragama islam. Padahal menurut laporan disebutkan bahwa sudah terdapat sebanyak 8 juta orang Rohingya yang tinggal di Myanmar. Hal inilah yang membuat mereka sering disebut sebagai bangsa yang tidak bertanah air.

Akhir- akhir ini sebagaimana banyak pemberitaan yang menyampaikan telah terjadi pembataian etnis Rohingya tersebut yang dilakukan oleh penduduk…

View original post 941 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s