Cerita Pak Husein

Nasihat itu bisa datang dari mana saja.

Benar sekali. Tepat hari ini, akhir hari ditutup dengan cerita dari Bapak Husein, salah satu petuga satpam asrama UI. Beliau memang sudah cukup akrab dengan saya dan beberapa teman asrama semenjak menetap di sana.

Selama kurang lebih satu jam beliau menceritakan duka-nya ketika ditinggal oleh Ayah beliau tepat 17 hari yang lalu. Kurang lebih ceritanya seperti ini.

Pak Husein memiliki seorang ayah yang hingga umurnya yang ke-62 masih dalam kondisi yang bugar. Ia mampu beraktifitas dengan baik, meski memiliki ukuran tubuh yang relatif gemuk. Dan sudah cukup lama beliau memang jarang menderita sakit yang cukup parah.

Hingga pada pertengahan bulan ramadhan kemarin, beliau mulai mengeluhkan sesak nafas dan rasa lemas. Spontan sebagai anak, pak Husein langsung mengantar sang ayah untuk memeriksakan kondisi kesehatannya. Sampai 3 rumah sakit beliau kunjungi, mulai dari RS Depok, Sentra Medika hingga sampai ke daerah Bogor. Dari semua rumah sakit ayah beliau diperkirakan menderita demam berdarah. Tubuh beliau ternyata semakin kurang baik, hingga akhirnya memerlukan trnasfusi darah yang cukup. Setelah itu baru beliau mampu kembali lebih segar.

Beberapa hari kemudian sang ayah langsung diprbolehkan untuk keluar dari rumah sakit dalam menjalani proses rawat jalan. Tidak lama berselang, seminggu sebelum lebaran kondisi sang ayah tiba-tiba kembali memburuk. Akhirnya Pak Husein kembali harus membawa beliau ke rumah sakit. Kali ini ia membawa sang ayah ke RS Cipto Mangunkusumo. Ia juga meminta agar sang ayah langsung diberi perawatan intensif di sana. Setelah menjalani  pemeriksaan, ternyata sang ayah kemungkinan menderita leukimia atau kerusakan ginjal. Untuk pemeriksaan lebih teliti, hal itu dapat dilakukan dengan mengambil sampel sumsum tulang belakang dari sang ayah. Akan tetapi, hal itu dapat beresiko kelumpuhan. Akhirnya sang ayah hanya memutuskan untuk membiarkan saja menjalani kondisi saat ini. Pak Husein dan saudara-saudaranya yang lain tentu saja tidak membiarkan begitu saja. Mereka bersikeras untuk berupaya mengusahakan segala sesuatu demi kesembuhan sang ayah. Akhirnya sang ayah hanya dirawat jalan dengan konsumsi obat-obatan dari dokter. Beberapa hari perawatan di rumah, kondisi sang ayah terlihat membaik. Bahkan, beliau mampu bermain-main dengan cucu-cucunya lagi. Suatu ketika, sang ayah menelpon pak Husein untuk mampir ke rumah. Namun, ketika itu pak Husein sedang menunggu giliran piket. Akhirnya pak Husein menyampaikan pada sang ayah akan berkunjung kesana keesokan harinya. Kurang lebih satu jam kemudian, pak Husein mendapat kabar bahwa sang ayah sudah tiada. Innalillahi wa innailaihi roji’uun.

Kurang lebih seperti itu duka yang dialami pak Husein beberapa waktu yang lalu. Tidak peduli siapapun mereka, setiap manusia juga pasti memiliki kesedihan. Kesedihan yang niscaya akan kita rasakan. Ada banyak makna yang mampu kita petik dari sepenggal kisah pak Husein tadi. Hikmah tentang syukur, sabar dan ikhlas. Pelajaran mulia yang tidak pernah mempedulikan siapa diri anda.

Semoga bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s