Mengapa harus Mahasiswa?

Pertanyaan yang muncul ketika dikaitkan tentang suatu hal yang disebut pergerakan. Banyak alasan yang muncul ketika kata ‘pergerakan’ itu diidentikkan dengan mahasiswa. Dari sekian banyaknya alasan, ada beberapa hal yang menurut saya menjadi alasan mendasar kenapa mahasiswa harus bergerak.

Memiliki Kapasitas Intelektual

Fase mahasiswa adalah fase dimana kapasitas dari segi intelektual dan kecerdasan sudah mencukupi untuk mengkritisi segala kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Pada masa ini, mahasiswa dibiasakan untuk memahami sistem baik itu lewat organisasi kemahasiswaan ataupun sistem birokrasi yang berlaku di kampus. Di sini seorang mahasiswa mulai belajar dan memahami kinerja suatu sistem. Hingga akhirnya mereka mampu untuk mengidentifikasi jika suatu ‘ketidakberesan’ tengah terjadi pada suatu sistem tersebut. Mari kita tengok sebuah organisasi berupa himpunan departemen yang terdiri dari berbagai macam divisi-divisi kerja. Jika suatu ketika kita menemui suatu masalah berkaitan dengan prestasi atau pendidikan, maka kita tinggal mengoreksi kinerja yang berlangsung pada divisi yang menanganinya, seperti divisi keilmiahan atau yang sejenisnya. Atau mungkin masalah keuangan, maka kita tinggal mengoreksi kinerja di bidang bendahara keuangan. Dalam skala yang lebih besar, seperti itulah masalah-masalah yang timbul pada instansi ataupun organisasi dalam skala nasional.

Selain itu, mahasiswa juga memiliki daya kreatifitas yang tinggi. Sehingga tidak hanya memahami dan mengkritisi, sangat memungkinkan jika akhirnya mahasiswa juga turut ambil bagian dalam memberi solusi bagi permasalahan-permasalahan yang ada. Seperti contoh isu krisis energi yang beberapa kali menjadi permasalahan pemerintah. Dari sini, mahasiswa MIPA sangat mungkin untuk berperan lewat riset dan gagasan-gagasan kreatif berkaitan dengan geotermal, biofuel ataupun sumber energi lain. Sehingga, pada akhirnya mampu mendorong penyelesaian masalah tersebut.

 

Bebas dari Kepentingan Golongan Tertentu

Tidak seperti para pejabat ataupun birokrat yang sangat terikat dengan kepentingan partai politik atau golongan-golongan tertentu yang melibatkannya, mahasiswa memiliki status independen dalam setiap tindakan yang dilakukannya. Artinya, setiap tindakan yang dilakukan oleh mahasiswa tidak memilih untuk menguntungkan golongan tertentu. Dasar yang bersih dari kepentingan golongan tertentu, berdampak pada semakin kecilnya konsekuensi dan pertimbangan yang diambil. Sehingga pada akhinya, mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap tindakan maupun keputusan yang diambil oleh mahasiswa. Kita ambil contoh acara bakti sosial yang dilakukan hampir setiap tahun oleh lembaga kemahasiswaan berupa BEM atau Himpunan departemen. Hal ini sangat berbeda dengan kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan oleh sebagian partai politik hanya pada masa menjelang pemilu empat tahun sekali, dengan tujuan untuk menarik minat masyarakat.

 

Bagian dari Rakyat

Mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat yang baik secara langsung maupun tidak langsung, juga merasakan dampak dari setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Mahasiswa mampu terjun langsung untuk mengetahui kondisi nyata yang dialami masyarakat, sehingga berbagai aspirasi dari masyarakat juga secara langsung dapat diserap oleh mahasiswa. Jika pemerintah mampu melihat masyarakat secara makro, maka mahasiswa memiliki kelebihan untuk melihat masyarakat secara mikro. Artinya, hal-hal kecil yang tidak mampu dijangkau oleh pemerintah, mampu dirasakan oleh mahasiswa. Hal inilah yang menjadi alasan utama seorang mahasiswa untuk bergerak.

 

Pergerakan tidak harus dengan aksi turun ke jalan atau demo di depan gedung pemerintah. Jiwa pergerakan itu juga mampu diwujudkan dengan karya nyata berupa prestasi membanggakan, bakti sosial, menjadi einterprenuer handal ataupun lewat hal kecil sekedar menyingkirkan batu di jalan. Setiap manusia itu memiliki kemampuan, daya pikir dan kreatifitas yang berbeda-beda. Yang terpenting adalah, jiwa dan semangat pergerakan itu harus ada dalam tiap diri seorang mahasiswa.

Jika boleh diibaratkan, mahasiswa itu seperti sebilah pedang suci. Memiliki kekuatan dan ketajaman intelektual yang mencukupi untuk menebas ketidakadilan, tanpa takut harus berkarat karena bersih dari kepentingan golongan-golongan tertentu, yang pada akhirnya digunakan di atas tujuan untuk melindungi kepentingan rakyat. Maka jangan sampai gelar mahasiswa itu luntur akibat egoisme pribadi diri kita, hingga akhirnya pedang itu hancur atau bahkan menebas mereka yang semestinya dilindungi.

Semoga bermanfaat.

One thought on “Mengapa harus Mahasiswa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s