It isn’t Like What We See : Medical Image Processing

Sedikit ingin berbagai tentang pengalaman di kuliah. Untuk hari ini adalah kelas Pencitraan Diagnostik yang disampaikan oleh bapak Dr. Warsito. Kelas ini sebenarnya tidak wajib bagi mahasiswa yang mengambil peminatan Fisika Teori Nuklir dan Partikel, tapi ga masalah dong. Saya juga cukup tertarik dengan Fisika Medis.
Well, dasar pencitraan medis atau bahasa inggrisnya Medical Image Processing, atau kadang juga disebut Medical Imaging (Karena bahasa Inggris sebenarnya saya bingung juga sih..hehe).  Yak, seperti namanya, bagaimana kita ‘mencitrakan’, dengan memanfaatkan instrumentasi fisika yang ditampilkan dalam gambar 2 atau 3 dimensi. Bagaimana nantinya sinyal-sinyal listrik yang dihasilkan dari gelombang yang ditembakkan ke suatu materi, kemudian diubah menjadi gambar dengan bantuan komputasi.

Yang beliau jelaskan pertama-tama adalah prinsip dasar pencitraan. Secara garis besar,dalam pencitraan medis harus terdiri dari Source – Matter – Detector. Ada sumber gelombang, materi dan detektor. Ketiga hal ini merupakan komponen dasar untuk melakukan pencitraan, terutama untuk hal diagnostik suatu penyakit dalam tubuh manusia. Mari kita singgung satu-persatu.

Source (Sumber)

Dalam suatu pencitraan diagnostik, media yang digunakan berupa gelombang. Baik itu gelombang elektromagnetik ataupun gelombang mekanik. Jenis gelombang yang dipakai juga sangat beragam, karena setiap gelombang tertentu memiliki kemampuan untuk ‘melihat’ materi tertentu yang ada di dalam suatu objek, dalam ini tubuh pasien. Contoh gelombang yang biasa digunakan seperti X-ray, gamma, infrared, atau bahkan gelombang suara.

Matter (Pasien)

Ketika sebuah gelombang bergerak kemudian melewati materi tertentu maka akan terjadi interaksi antar gelombang tersebut dengan partikel-partikel dalam suatu materi. Entah terjadi transimisi, refleksi, atau mungkin diserap. Yang kita tahu, adalah terjadi perubahaan keadaan sebelum dan sesudah mengenai suatu materi tadi. Karena kita berbicara soal pencitraan diagnostik, maka bahasan materi ini akan berkaitan dengan pasien. Apakah itu kanker, tumor dan lain sebagainya. Di dalam tubuh pasien, suatu penyakit biasanya terkonsentrasi pada suatu tempat. Konsentrasi tersebut yang nantinya akan menunjukkan letak si penyakit tadi. Ini seperti prinsip kerja Overhead Proyektor pada saat presentasi menggunakan kertas transparan. Maka kertas transparan itu kita ibaratkan sebagai tubuh pasien, dan tulisan-tulisannya sebagai penyakit yang ada di dalamnya.

Detector (Layar)

Keadaan awal dan keadaan akhir. Yah, itulah hal-hal yang bisa diukur secara eksperimen. Masalah seperti apa detail interaksi gelombang dan materi, kita tidak tahu pasti. Ketika terjadi perubahan ‘karakter’ antara gelombang yang ditembakkan dengan yang sudah melewati tubuh pasien, kita butuh detektor dengan spesifikasi yang benar. Karena bisa saja gelombang yang sudah melewati tubuh pasien memancarkan ratusan gelombang dengan frekuensi yang berbeda-beda. Dan alat instrumentasi elektronika, biasanya memiliki keterbatasan dalam mendeteksi gelombang-gelombang yang dideteksi.  Gelombang-gelombang yang terdeteksi ini yang menjadi data-data untuk dianalisa menjadi sebuah gambar.

Secara garis besar, tiga poin di atas adalah hal mendasar dalam suatu pencitraan. Masalah bagaimana mengubah data yang diperoleh menjadi sebuah gambar, itu masalah lain. (hehe) Tapi sebenarnya ada hal menarik yang saya ambil dari kuliah tersebut. (Ehm.. sebenarnya bingung jelasinnya dari mana.) Jadi intinya seperti ini, untuk ‘melihat’ sesuatu kita perlu media berupa gelombang yang mampu berinteraksi dengan benda yang akan kita lihat. Seperti contohnya, mata kita. Benda yang kita lihat adalah hasil ‘interaksi’ (pantulan) cahaya tampak pada suatu benda kemudian menuju ke mata kita. Lalu oleh mata ditafsirkan dalam bentuk gambar yang kita lihat. Ehm, seumpama mata kita mampu mendeteksi gelombang dengan rentang frekuensi yang lebih banyak. Hoho, mungkin kita akan melihat hal yang lebih menakjubkan dari apa yang kita lihat sekarang. Yah, mungkin Allah memang sengaja membatasi kemampuan manusia untuk memenuhi kebutuhan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Untuk manusia, cahaya tampak sudah lebih dari cukup. Tapi pelajaran menariknya adalah,

“sometimes, a thing isn’t like what we see.”

Apa yang kita lihat, bisa jadi hanya sebagian kecil dari keseluruhan informasi yang ada. Jadi terkadang kita harus lebih bijak. Pikiran kita juga harus lebih terbuka ketika ‘melihat’ sesuatu. Karena apa yang kita lihat bisa jadi sebagian kecil dari kebenaran yang ada.

Belajar Fisika enak kan.. hahaha 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s