The Destructive System

Ehm.. Sebenarnya tulisan ini saya share dengan setengah hati. Tentang pemikiran yang cenderung pesimis. hehe Ini tentang catatan saya terkait Musyawarah Mahasiswa FMIPA UI tahun 2013. Saya memang tidak menjamin pemikiran-pemikiran negatif ini benar, tapi semoga yang membaca bisa mengambil pelajaran positif dari masalah-masalah yang ada.

Cerita sedikit, dalam Aturan Dasar Ikatan Keluarga Mahasiswa FMIPA UI 2012, pasal 4 berbunyi, “Musma diadakan setiap 3 tahun sekali atau dengan kesepakatan 1/2n + 1 dari lembaga kemahasiswaan.” Yak, pasal ini yang akhirnya membuat IKM FMIPA UI harus menjalankan “proker 3 tahunan” pada tahun ini, 2013, setelah MUSMA terakhir dilaksanakan pada tahun 2010 lalu. Dari fungsinya, MUSMA memiliki wewenang untuk mengubah AD IKM FMIPA yang selama ini telah dijalankan sebagai dasar aturan kelembagaan di tingkat FMIPA UI. Secara tidak langsung, ini merupakan suatu momen evaluasi sistem kelembagaan dan penyesuaian kembali aturan yang digunakan dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Jikalau dilihat dari esensi dan tujuannya, acara ini idealnya dihadiri oleh sebagian besar mahasiswa FMIPA UI yang pada akhirnya memberi suara dan pendapat terkait sistem yang kita gunakan saat ini.

Oke singkatnya, pada akhirnya MUSMA IKM FMIPA UI 2013 telah selesai hingga tepatnya Kamis lalu, 28 Juni 2013 pukul 16.33 WIB. Setelah sebelumnya sempat ditunda dikarenakan minimnya jumlah peserta yang hadir dalam musyawarah tersebut. Kurang lebih 3 bulan lembaga kemahasiswaan se-MIPA, khususnya Badan Perwakilan Mahasiswa FMIPA UI (sebagai pelaksana) disibukkan dengan agenda tersebut. Pembahasan secara keseluruhan pasal demi pasal dengan perdebatan yang cukup panjang mewarnai sidang tersebut. Menarik, karena meskipun menjadi sabagai anggota dari Lembaga Tertinggi kita juga tetap bisa belajar berbagai gagasan.

Ehm, selama persidangan beberapa pasal pada akhirnya mengalami perubahan. Beberapa tentang musma, kaderisasi, sangsi lembaga dan sistem pengawasan. Dari keseluruhan saya mengambil kesimpulan bahwa, kewajiban BPM semakin bertambah pada AD IKM FMIPA UI yang baru ini. Yah, pada akhirnya hal tersebut memang tidak bisa diredam jikalau mungkin pada akhirnya mahasiswa MIPA tidak banyak merasakan keberadaan BPM secara optimal selama ini. Padahal dalam tataran AD IKM FMIPA, BPM adalah lembaga tertinggi yang menjalankan kekuasaan legislatif, yudikatif, fungsi pengawasan, pengendalian dan audit keuangan lembaga. Idealnya, BPM adalah lembaga superpower-nya MIPA.

Yah, tapi yang membuat saya pikiran saya sangat tertanggu adalah apakah dengan menambah tanggung jawab BPM, kinerja akan berjalan semakin baik? Oke, saya akui, dalam beberapa tahun terakhir ini kinerja BPM memang terlihat mengalami penurunan. Semakin banyak mahasiswa MIPA yang bahkan tidak mengetahui bahwa BPM itu ada. (sedih T-T) Fenomena apatisme juga terlihat semakin menjamur. Hal ini mungkin salah satunya disebabkan karena BPM tidak optimal dalam menjalankan fungsinya, sehingga lembaga yang diawasi malah cenderung bandel akan aturan yang telah ditetapkan.

Lembaga superpower idealnya terdiri dari orang-orang yang super. Tapi di fakta lain menunjukkan, beberapa tahun terakhir partisipasi mahasiswa departemen dalam memajukan calon untuk duduk sebagai anggota BPM juga semakin menurun. Di beberapa departemen, anggota-anggota BPM yang dicalonkan banyak yang karena dipaksa, lantaran tidak ada lagi yang bersedia mengajukan diri. Bahkan, untuk tahun ini departemen Matematika hanya mengirim dua delegasi sebagai anggota BPM, dari yang seharusnya tiga anggota. Hampir semua departemen sesuai dengan kuota yang ada, sehingga secara otomatis mereka pasti terpilih walau hanya dengan mengikuti prosedur yang ada. Tidak adanya persaingan dalam perolehan suara membuat kualitas anggota terpilih juga semakin menurun. Meskipun pada akhirnya, kita tidak bisa menjustifikasi apakah nantinya ada saingan atau tidak akan menjamin kulitas SDM semakin baik atau tidak. Tapi minimal, dengan adanya persaingan, rasa untuk meningkatkan kualitas diri itu menjadi sebuah keharusan.

Jujur saya akhirnya sedikit sedih, karena SDM yang “seadanya” ini pada akhirnya harus menanggung beban berat untuk menjalankan amanah yang sedemikian besar. Jikalau mereka dengan kesediaan hati mencalonkan diri, mungkin amanah sebesar apapun pada akhirnya ikhlas akan ia jalankan. Namun, bagaimana dengan mereka yang ‘terpaksa’? Ada dua hal yang mungkin terjadi. Mereka ikhlas dan tetap belajar menjalankan amanah tersebut. Atau semakin menarik diri dan lari dari tanggung jawab. Sayangnya di BPM ini, kedua hal tersebut terjadi. Sejujurnya saya juga tidak menyalahkan mereka yang mengambil pilihan yang kedua, karena di satu sisi mereka mungkin tidak mau menjadi ‘tumbal’ departemen masing-masing. Meskipun mungkin sebagian SDM yang lain juga terus berusaha menutupi kekurangan tersebut. Tapi pada akhirnya tetap saja, minimnya SDM membuat kinerja lembaga akan semakin menurun. Padahal setiap anggota yang ada, idealnya menjadi super-man di lembaga yang bernama BPM tersebut.

See? Tidak salah kan, jika akhirnya di mata masyarakat BPM juga semakin kalah pamor? Kualitas anggota semakin menurun, berdampak kinerja BPM semakin menurun. Penurunan kinerja BPM, otomatis pengawasan lembaga juga semakin kendor. Ketidakoptimalan ini, membuat profesionalitas lembaga menurun, dan citra buruk BPM semakin merajalela. Ini seperti siklus yang akan terus terjadi jika tidak segera ditangani. Kasarnya saya menyebutnya “Destructive System”. Intinya kewajiban yang besar setidaknya harus diimbangi dengan SDM yang kuat.

Penanganannya? Yah, solusinya sederhana. Peningkatan kuantitas dan kualitas SDM. Peningkatan kuantitas hanya bisa dilakukan dengan memperbesar kuota anggota per departemen. Yang awalnya hanya tiga, mungkin bisa menjadi empat atau lima orang per departemen. Lalu, peningkatan kualitas bisa dilakukan dengan mengatur komposisi angkatan senior lebih banyak dibandingkan dengan dengan junior. Memang tidak bisa dipastikan angkatan junior akan lebih buruk kualitasnya atau tidak dibanding anggota senior. Akan tetapi pemahaman konsep, pengalaman dari angkatan yang lebih senior setidaknya akan memperbesar peluang untuk memperkuat BPM nantinya.

Well, itu dia tadi celotehan soal MUSMA dari saya. Yah, saya sangat sadar pemikiran ini memang agak sedikit ….. Atau mungkin cenderung menyalahkan sistem yang ada. Yang menjadi titik tekan saya adalah jikalau kita menempatkan suatu posisi dengan tanggung jawab yang besar, paling tidak hal ini harus diimbangi dengan strategi perekrutan dan pembinaan SDM yang baik. Bukan hanya sekedar menambah kewajiban dan tugas yang belum tentu seseorang sanggup dan paham bagaimana melaksanakannya. Khawatirnya pada akhirnya tidak akan lagi yang akan peduli dengan yang namanya pergerakan, organisasi dan idealisme mahasiswa.

Semoga kekhawatiran ini tidak benar-benar terjadi. Sehingga nantinya kita tetap mampu melaksanakan pergerakan mahasiswa dengan lebih “elegan dan dinamis”. (apaan tuh? hehe)
Semoga bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s