Kebiasaan

Jikalau manusia diibaratkan sebagai sebuah mesin, maka ia adalah sebaik-baik mesin yang tidak pernah memiliki batas. Bahkan semakin dipacu ia justru semakin tangguh.  Mesin manusia tidak lain wujud dari kebiasaannya. Manusia diberi karunia berupa otak yang mampu belajar dan berkembang akan suatu keterampilan jika dilakukan secara terus-menerus. Keterampilan bisa berupa menyanyi, bermain sepak bola, berdebat bahkan sampai mengerjakan soal matematika. Ketika hal itu menjadi kebiasaan maka seseorang seolah-olah memiliki mesin yang secara otomatis mengerjakan hal tersebut. Semakin terbiasa, maka semakin terampil ia akan suatu hal.
Namun, yang namanya kebiasaan bisa jadi seperti pedang bermata dua. Ketika kita memiliki kebiasaan yang baik maka ia akan menjadi senjata yang sangat tangguh bagi kita untuk berkembang. Akan tetapi ketika kebiasaan kita diisi oleh hal-hal yang tidak membawa manfaat, maka bisa jadi akan ada hari di saat kita begitu menyesali kerugian kita.
Kebiasaan seseorang dipengaruhi oleh sebagian besar waktu yang ia gunakan di setiap harinya. Mulai saat ia terbangun, hingga kembali terlelap. Setiap orang di dunia ini diberikan jatah waktu yang sama setiap harinya. Namun, kualitas pekerjaan nyaris tidak ada yang sama. Alangkah beruntungnya orang-orang yang mengisi sebagian besar hari-harinya dengan melakukan kebaikan.
Kita mungkin bisa belajar dari kewajiban kita akan sholat lima waktu setiap hainya. Dengan intensitas yang seperti itu ada yang merasa terlalu banyak namun ada juga yang merasa kurang. Yang pasti ada nilai kedisiplinan yang mungkin Allah ingin biasakan kepada kita. Perintah Allah bukan sekedar melaksanakan, tapi “menegakkan” sholat.
Membiasakan diri akan hal baik bukanlah perkara rumit, jika kita memang berniat dan komitmen. Kita bisa muali dari mengerjakan hal-hal yang kecil. Misalnya, myempatkan diri berdoa sebelum pergi., berwudhu sebelum belajar, mengaji sebelum masuk kelas atau bahkan yang menurut kita paling sederhana sekalipun. Itu semua tidak jadi masalah, karena Allah memang menyukai amalah yang kecil namun terus menerus, daripada amalan yang besar namun hanya sekali waktu. Dari sini kita juga bisa mengambil pesan, bahwa seseungguhnya Allah menginginkan kita membiasakan diri melakukan kebaikan.
Jikalau kebiasaan baik yang sederhana sudah menjadi bagian dari diri kita, niscaya kebaikan-kebaikan yang besar akan datang dengan sendirinya. Semoga kita termasuk diantara orang-orang yang diberi banyak keberkahan amal dan umur di setiap harinya. Amin

Sumber : catatan usai mentoring. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s