Road to the “final exam”

Tiga setengah tahun sudah saya menimba pendidikan di Departemen Fisika, Universitas Indonesia. Tidak terasa kurang dari enam bulan lagi status sebagai mahasiswa S1 akan berakhir. Yah, walaupun belum bisa dipastikan apakah berjalan sesuai rencana atau tidak. Yang pasti persiapan untuk menggapai hal tersebut sudah dilakukan. Beberapa bulan terakhir memang saya fokuskan untuk mempelajari materi untuk tugas akhir.

Selama kuliah, dua semester terakhir ini memang berat. Namun saya juga tidak menyangkal begitu banyak hal menarik juga terjadi di semester-semester akhir ini. Kehidupan kampus yang saya bayangkan di awal bangku kuliah, ternyata sedikit demi sedikit baru terealisasi saat ini. Belajar di lab hingga larut, diskusi rutin dengan dosen, baca jurnal, bikin paper… Belajar itu seperti reaksi berantai. Ketika paham yang ini, lalu ingin yang itu. Sesudah paham itu, lalu cari yang itu itu lagi. hehehe    Walaupun kadang-kadang bisa dapat bonus mata merah atau tangan yang pegal, tapi semua terasa sangat menyenangkan.

Semua hal itu baru saya sadari tidak lama. Ketika belakangan saya akhirnya menentukan akan hidup di dunia akademis. Pada pertengahan masa kuliah, saya juga mengalami masa jenuh. Saat- saat ketika belajar jadi terasa begitu berat. Materi yang segudang dan tujuan yang masih abstrak. Akhirnya kondisi itu berimbas pada nilai yang sangat menyedihkan. Belum selesai sampai di situ,  saya kemudian dilanda rasa takut dan kepercayaan diri yang menurun. Mulai dari hal akademis, ekonomi, hingga masalah jodoh (upss!!). Saya menjadi begitu mengkhawatirkan banyak hal. Karena takut, seringkali cenderung mencari pelampiasan untuk menenangkan diri. Alhamdulillah, pelampiasannya ngga sampai aneh-aneh, cuma porsi main game aja yang jadi lebih banyak.hehehe

Kondisi seperti itu saya alami cukup lama. Hingga akhirnya, semester lalu saya kembali menemukan hal-hal menarik yang dulu saya pertanyakan. “Kenapa bumi berotasi?” adalah ertanyaan yang sempat terpikira ketika mahasiswa baru. Beberapa pendapat untuk menjawabannya baru bisa saya temukan satu semester lalu ketika belajar teori relativitas khusus dan mekanika kuantum relativistik. Meskipun saya sendiri  belum menemukan jawaban yang pasti, tapi setidaknya petunjuk semacam itu menyalakan kembali semangat saya yang meredup untuk kembali belajar. hohoho

Saya sangat bersyukur telah belajar satu hal penting. Bahwa, setiap orang memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap orang keterampilan tersendiri yang diasah dari kegiatan mereka sehari-hari. Tapi diantara mereka, tidak semuanya menyadari arti kata pantang menyerah. Ketika kita mendapati nilai ujian kita lebih buruk dibanding orang lain, kita tidak perlu berkecil hati karena itu mungkin memang nilai yang pantas untuk kita. Yang terpenting kita harus berusaha bangkit, belajar dari kesalahan dan berusaha kembali. Jangan sampai nilai yang buruk di hari kemarin malah mengecilkan hati kita dan menyerah pada keadaan.

Kita mungkin akan pernah salah, kurang atau buruk di hari sebelumnya. Tapi tidak ada jawaban pasti untuk hari esok, hingga kita berusaha memperbaiki diri kita dan memberi yang terbaik untuk hari ini.

Semoga bermanfaat

“I’m not concerned that you have fallen. I’m concerned that you arise” – Abraham Lincoln

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s